"Misi Mustahil: BUMDes Beurata vs Aplikasi Pemeringkatan, Siapa Menang? Laporan Langsung dari Cot U Sibak"

Kuala, 12 Mei 2026 – Drama, angin sepoi sepoi, dan mie udang. Itulah 3 bahan utama di balik proses pemeringkatan BUMDes Beurata Gampong Cot U Sibak, Kecamatan Kuala, minggu ini. Kronologinya begini. Hari Selasa, aplikasi pemeringkatan Kemendes tiba-tiba jadi galak. "Upload laporan keuangan!" kata Pak Ali, Korcam TPP Kuala yang dikenal agak tegas... Pengurus BUMDes Beurata langsung tatap-tatapan. Laporan keuangan? Yang ada cuma buku kas isi stiker Hello Kitty dari tahun 2023.Masuklah sang pahlawan tanpa jubah: Irma, PD Kecamatan Kuala lainnya. Datang bawa laptop, charger, dan mental baja. "Tenang Pak Dir (Direktur Red), ini cuma aplikasi. Dia galak di luar, tapi hatinya baik kalau data lengkap," kata Irma sambil buka Excel. Direktur Agusmaidi cuma manggut-manggut sambil ngopi. "Kalau gagal, gimana, Ir? BUMDes kami turun jadi 'Rintisan' lagi?""Tenang Pak Dir. Kalau gagal, kita bikin judul berita: 'BUMDes Beurita Rintisan Tapi Eksis'," jawab Irma  santai. Proses input data pun dimulai.

Sekilas tentang BUMDes Beurata

BUMDes Beurata, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, mengelola dua unit usaha produktif untuk meningkatkan Pendapatan Asli Gampong (PAG) dan membuka lapangan kerja warga. Dua unit usaha tersebut adalah Budidaya Ikan Nila di Tambak dan Pertanian Melon, yang mulai berjalan sejak akhir 2025

Tambak Ikan Nila:

Sewa Lahan Rp 25 Juta untuk 5 Tahun Unit usaha tambak mengelola lahan seluas 1.200 m² dengan sistem sewa lahan Rp 25 juta untuk jangka waktu 5 tahun. Saat ini bibit ikan nila berumur 2 bulan sudah ditebar dan dalam masa pemeliharaan intensif.“Target panen perdana di bulan Agustus 2026. Kalau lancar, 1 siklus bisa hasilkan 1,2 ton ikan nila. Keuntungan bersihnya kita bagi 60% untuk kas BUMDes, 40% untuk operasional dan insentif pekerja warga,” jelas Pengurus BUMDes Beurata. Unit tambak ini menyerap 4 tenaga kerja warga gampong, mulai dari penjaga tambak hingga pemanen.

Pertanian Melon: 

Modal kecil, sudah Panen. Berbeda dengan tambak, unit melon lebih cepat balik modal. Dengan sewa lahan Rp 5 juta untuk 5 tahun, BUMDes Beurata sudah berhasil panen perdana pada April 2026.“Hasil panen pertama 800 kg, langsung habis dijual ke pasar Kuala dan Bireuen. Keuntungannya masuk kas BUMDes buat modal putaran berikutnya,” kata pengurus. Rencananya, lahan melon akan diperluas pada musim tanam berikutnya karena permintaan pasar tinggi.

Dampak

Kas Gampong bertambah, warga senang Keuchik Gampong Cot U Sibak Darkasy menyampaikan, dua unit usaha ini adalah bukti Dana Desa bisa diputar jadi usaha produktif jika dikelola dengan benar.“Dulu BUMDes kami jalan di tempat. Sekarang ada pemasukan rutin. Yang penting transparan, warga juga ikut ngawasi,” ujarnya.Tenaga Pendamping Profesional Kecamatan Kuala yang mendampingi BUMDes Beurata menyebut, kedua unit usaha ini masuk kategori “produktif dan berkelanjutan” sesuai kriteria pemeringkatan BUMDes 2026.“Tambak nila untuk jangka panjang, melon untuk cash flow cepat. Kombinasi ini bagus. Tinggal ditingkatkan manajemen dan pencatatan keuangannya,” kata pendamping.Target 2026: Naik Status ke “Berkembang”Dengan dua unit usaha aktif ini, BUMDes Beurata optimis bisa naik status dari “Rintisan” ke “Berkembang” pada pemeringkatan tahun ini. Status tersebut akan membuka akses ke program penguatan BUMDes dari dpmg dan Kemendes PDT.

Kembali ke Pemeringkatan

Setelah Berantem sama file PDF yang nggak mau di-compress, jam 12:00 – Istirahat, makan mie, sambil jelasin ke pengurus apa itu "neraca".

Jam 15:00 – Berhasil upload foto bascamp BUMDes. Komentar pengurus: "Foto nya jelek, Ir. Keliatan jenggot saya."

Jam 16:00 – SK Pengurus baru ketemu. Ternyata nyelip di laci meja Keuchik, di bawah tumpukan undangan maulid. Sampai berita ini ditulis, progres BUMDes Beurata sudah 85%. Tinggal upload SK dan neraca. Kalau lancar, status "Rintisan" siap naik kelas jadi "Berkembang".

Moral Ceritanya:

Pemeringkatan BUMDes itu bukan ajang perang. Tapi kalau nggak dibantu TPP, bisa-bisa jadi ajang perang saudara antara pengurus dan aplikasi. Keuchik Darkasyi menutup dengan bijak: "Yang penting budidaya ikan nila jalan, warga nggak ribut. Mau status Rintisan kek, Mandiri kek, yang penting BUMDes bermanfaat.

"Caption Foto:

TPP Kuala dan Pengurus Bumdes vs Laptop. 

Komentar

Posting Komentar