"Ketika rakit kayu, tali dan nyali" jadi kenderaan Dinas TPP Peusangan Selatan
PEUSANGAN SELATAN, BIREUEN – Banjir yang menerjang Kecamatan Peusangan Selatan november tahun lalu, menyisakan lumpur setinggi 2 meter sampai padi dan jagung ikut tumbang, akses jalan terputus, jembatan darurat belum rampung. Tapi satu hal tidak ikut terendam: semangat pendampingan. Di tengah kondisi itu, “kenderaan dinas” Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Peusangan Selatan kembali membuktikan fungsinya. Bukan mobil 4x4, bukan motor trail, tapi sepatu boot berlumpur, jas hujan robek, dan tekad untuk sampai ke desa dampingan menjadi kendaraan utama.
"Tidak ada jembatan? kami menyeberang..tidak ada jalan..? kami tetap datang"
Saat Google Maps Bilang 'Rute Tidak Tersedia', Tapi Gampong Menunggu
Krueng (sungai) yang membelah gampong yang dulunya dihubungkan dengan jembatan beton, kini hilang, satu-satunya cara menyeberang adalah rakit kayu sederhana. Tidak ada mesin. Hanya dua buah perahu yang diatasnya disusun papan, tali tambang yang diikat sebagai pendayung sungguh menguji andrenalin. Di atas rakit itulah berkas pendataan, proposal kegiatan ketahanan pangan, dan semangat pendampingan dibawa menyeberang. Tidak ada logo dinas. Tidak ada baju seragam. Yang ada hanya basah di baju dan lumpur di sepatu boot.“Inilah kenderaan dinas kami. Kalau menunggu jembatan selesai, warga Peusangan Selatan akan menunggu lebih lama lagi,” ujar Ibu Ida didampingi Pak Taufik, TPP yang ikut menyeberang pagi itu.
Menyelamatkan Ketahanan Pangan Tematik Jagung Pasca Banjir
Misi mereka jelas: menyelamatkan kegiatan ketahanan pangan seperti kegiatan tematik jagung di Paya Crot.BUMDes Hudeep Beusare Gampong Paya Crot. Lahan terendam, stok bibit jagung ikut hanyut. Kalau tidak segera ditangani, satu siklus ekonomi gampong bisa mati. Di tengah lumpur, tim TPP melakukan tiga hal sekaligus: Pendataan cepat kerusakan aset BUMDes dan lahan petani mitra. Fasilitasi koordinasi dengan Keuchik dan Tuha Peut untuk gotong royong, pembersihan. Penyusunan rencana teumatik jagung pasca banjir, mulai dari pengeringan ulang hingga jadwal tanam susulan.
“Warga sudah lelah. Tugas kami memastikan mereka tidak lelah sendirian,” kata Ibu Ida dan Pak Taufik.
Ibu Ida dan Pak Taufik memang 2 orang Pendamping senior yang sangat dihormati di Peusangan Selatan, saking terkenalnya sampai orang ODGJ pun kenal sama beliau,....celutuk salah seorang Keuchik kepada penulis saat berkunjung ke Peusangan Selatan.
BUMDes Hudeep Beusare kini sudah menanam kembali jagung dengan sistim memberi pinjaman permodalan antara 3 s/d 8 juta kepada penduduk yang mempunyai lahan kosong untuk digarap sebagai lahan tematik jagung gampong Paya Crot, dan sekarang sudah berumur 2 bulan. Lahan yang tadinya terendam sudah menghijau ulang dengan batang jagung . Heroik itu bukan melulu keberanian di medan perang, namun bisa membangkitkan semangat warga yang terbenam lumpur adalah seperti dejavu..
Pemberdayaan sejati.
BalasHapusSemoga selalu dalam Kesehatan, tetap Bergerak Untuk pemberdayaan Masyarakat
BalasHapus