Ketika Jempol TPP Main Medsos, Kinerja Desa Ikut Terdongkrak
Dari Laporan Jadi Cerita yang Menggerakkan
“Awalnya saya malu posting. Takut dibilang cari muka,” cerita Rahma, TPP Kecamatan Jeunib. Sampai suatu hari dia iseng merekam proses BUMDes binaannya panen telur Elba. Video 15 detik itu FYP, ditonton 80 ribu orang. Efeknya di luar dugaan. DPMG Kabupten langsung DM, menawari BUMDes itu jadi lokasi studi banding. Dua investor lokal datang menawar kontrak telur. Warga yang awalnya apatis tiba-tiba semangat ikut rapat BUMDes.“Medsos bikin kerja kita kelihatan. Sekali viral, dukungan yang datang 10 kali lebih cepat dari surat resmi,” kata Rahma. Laporan di kertas dibaca atasan, konten di medsos dibaca satu kabupaten.
Medsos = Kantor TPP Jilid 2
Bagi Nasrul Fahmi, TPP Jeunib lainnya, grup WhatsApp gampong adalah “kantor kedua”. Jam 7 malam, dia live chat jawab pertanyaan aparatur gampong soal pengisian aplikasi pemeringkatan BUMDes. Jam 9 pagi, dia posting infografis “Cara Hitung Dana Ketahanan Pangan 20%” di status.“Daripada saya keliling 43 gampong seminggu sekali, mending saya datang ke HP mereka tiap hari. Pertanyaan berulang saya jawab sekali lewat video, bisa diputar ulang 100 kali,” ujarnya. Hasilnya nyata. Tahun 2025, keterlambatan LPJ di wilayah dampingannya 40%. Setelah rutin edukasi via medsos, Mei 2026 jadi turun drastis.
Resiko Nyinyir vs Manfaat Nyata
Tentu tidak semua mulus. Ada TPP yang kena nyinyir: “Kerja kok main HP terus.” Ada yang videonya dikomentari “Pencitraan”. Tapi Koordinator TPP Bireuen, Zulfikar , justru mendorong. “Era-nya sudah beda. TPP yang anti medsos akan kalah cepat dengan masalah di desa. Syaratnya satu yaitu kontennya harus substansi, bukan gimmick, Zulfikar menyebut, TPP berprestasi 2026 rata-rata punya 2 ciri yaitu aktif mendampingi offline, dan rajin mendokumentasikan, “Medsos itu etalase. Kalau etalase kosong, orang kira kita tidak kerja apa-apa.
Jempol yang Mengabdi
Medsos bisa jadi candu, bisa juga jadi cangkul. Di tangan TPP, satu postingan bisa berarti satu BUMDes dapat pasar, satu aturan bisa dipahami seluruh Keuchik dalam semalam, satu desa terpencil bisa viral dan dapat bantuan kinerja. TPP hari ini tidak lagi diukur dari berapa kali dia hadir di kantor kecamatan, tapi dari berapa banyak masalah desa yang selesai karena dia hadir, termasuk hadir di layar HP masyarakat. Jadi, kalau hari ini lihat TPP upload video kandang ayam, infografis APBG, atau live tanya jawab jam 8 malam, jangan buru-buru julid. Siapa tahu, jempolnya yang main medsos itu sedang menyelamatkan satu desa dari telat bangun. Karena di era digital, mengabdi tidak selalu harus datang dengan sepatu boot, kadang cukup dengan kuota internet dan niat yang lurus.
Komentar
Posting Komentar