Dana Desa Di Erami: BUMDes Banggalang Gampong Lheu Simpang Sulap Rp 137 Juta Jadi 150 Telur Per Hari
Ketua Unit Ayam Petelur BUMDes Banggalang, Mulyadi, menjelaskan proses "pengeraman" dana tersebut. Modal Rp 137 juta untuk 5 bulan pertama, namun ada juga sebagian bibit yang mati sebelum menghasilkan seperti terkena sinus mata. “Usia 4,5 bulan ayam mulai belajar bertelur. Masuk bulan ke-5, produksi sudah 70-80%. Jadi dana itu nggak nganggur lama, langsung kerja,” ujar Mulyadi. Dengan harga jual Rp 2.500 per butir di tingkat kandang, BUMDes mengantongi omzet kotor Rp 375.000 – Rp 500.000 per hari. Setelah dipotong biaya pakan, listrik, vitamin, dan gaji 3 warga pengelola, laba bersih yang masuk kas BUMDes tembus Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan.
Telur untuk Perut, Laba untuk Gampong
Keuntungan “mengerami” dana desa ini tidak hanya dinikmati BUMDes. Warga Lheu Simpang mendapat prioritas membeli telur dengan harga Rp 2.200/butir, lebih murah Rp 300 dari harga pasar.“Sekarang nggak perlu jauh-jauh ke kota. Telur selalu ada, masih segar, harga lebih murah. Kata seorang warga yang ditemui penulis.
Ke depan, BUMDes Banggalang menargetkan “mengerami” laba usaha untuk menambah 1.000 ekor lagi pada Agustus 2026. Kotoran ayam juga akan diolah jadi pupuk untuk kelompok tani, sehingga tidak ada yang terbuang."Prinsipnya jelas, dana desa jangan cuma habis sekali pakai. Harus dierami biar beranak-pinak". Satu kandang ini kasih kita tiga hal sekaligus, "perut warga aman, ada lapangan kerja, PAD Gampong nambah," tegas Mulyadi. Dari Lheu Simpang, istilah “mengerami dana desa” kini jadi contoh bahwa ketahanan pangan terbaik adalah saat desa mampu memproduksi pangannya sendiri.
Luar biasa...
BalasHapusDulu cuma obrolan di balai desa. Sekarang sudah jadi usaha kebanggaan Desa. Sukses terus.
BalasHapus